(Bukan) Sebuah Penutup

Kurasa mestinya kita memaklumi orang-orang yang berjanji lalu melanggar—bukankah kita pun terbiasa mengucap sumpah tanpa menakar lalu ingkar tiap bertengkar? Maka beginilah kita hari ini: sepasang yang lelah dan patah-patah. Tak dapat kautemukan dalam sepatu kanan dan kirimu sebab mereka tak perlu khawatir kehilangan salah satu, atau pada mesin cucimu dan putaran airnya di rumah sebab mereka saling menyakiti dengan jauh lebih tabah. Kubayangkan menginjak kacamataku sampai terbelah dan di situlah kita, bertahan pada masing-masing sisi, mengaduh tertusuk pecahan kata-kata sendiri.

Kuingat kita mulai mencintai dengan bodoh dan tumbuh begitu keras kepala—entah mengapa kau dan aku kian enggan mengalah meski hanya setingkat sebelum terpisah. Coba saksikan kita sekarang: sepasang yang berakhir sebelum takdir. Demikian kita tinggal dalam tanggal-tanggal kelabu yang kosong ditinggalkan benda-benda bernyawa; aku anak kecil ketakutan yang terus memanggil sambil mendekat dan bertanya, kau penjaga gigil oleh cuaca tapi enggan mendekap sebab bosan mengulang jawaban yang sama.

Kubayangkan berhenti mengganggumu dan pergi, tapi kau pun pasti sadar, sayang: kita telah memilih tempat yang tak punya jalan keluar.

3 thoughts on “(Bukan) Sebuah Penutup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s