Sajak Sebatang Pohon

Jika aku kehabisan daun, kau jangan berhenti berteduh. Ingatkan saja padaku bahwa di sini masih nyaman yang sama meski waktu tengah membuat semua hijauku luruh. Lalu biar kudengar kau berkata: musim-musim kering tak akan membuat nama yang terukir pada tubuhmu seperti remaja jatuh cinta kelak kehilangan pemiliknya.

Jika aku kehabisan daun, kau jangan ikut bersedih. Kuingatkan padamu bahwa di sini akan kembali rindang meski kini angin lebih mudah membikin matamu pedih. Lalu biar kaudengar aku berkata: musim-musim kering memang selalu membuatku cepat marah—bagaimana jika segala yang  tak lagi hinggap kelak membuatmu tak betah?


Maka jika aku kehabisan daun, kau jangan berhenti berteduh. Ingatkan saja padaku bahwa kita tak perlu begitu takut pada sepi.

Lalu biar kudengar kau bersuara tanpa henti:
perdengarkanlah apapun selain langkah-langkah kaki.

8 thoughts on “Sajak Sebatang Pohon

  1. Jika waktu mengambil semua, ingatkan saja percakapan antara kita tidak pernah benar-benar terenggut oleh apapun. Salam kenal Mba. Izin follow blog dan akun twitternya. Teruskan tarian jemarimu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s