Sajak-sajak Jawa Pos 20 November 2011

Memo di Pintu Kepalamu

Masa lalumu itu
setelah usai dikremasi
harusnya kautebar di Laut Mati

tapi kau menelannya lagi
hingga membentuk padang pasir
lengkap dengan seorang musafir
yang memaksaku angkat kaki.

13 November 2011

Untuk Alasan yang Sederhana

Pada suatu hari, katanya
ia bercermin
dan tak menemukan aku lagi.

Oktober 2011

Pukul Setengah Tujuh Pagi

Kau adalah matahari
pukul setengah tujuh pagi,
menyelinap segaris lewat jendela
menghangat sedikit di dalam hati.

Kau adalah selembar daun
pukul setengah tujuh pagi,
dijatuhkan burung kecil di dahan
mendaratkan rindu di halaman.

Kau adalah lonceng beranda
pukul setengah tujuh pagi,
bergoyang-goyang ditiup angin
mendentingkan merdu rasa ingin.

Kau adalah yang kuseduh
pukul setengah tujuh pagi,
dua kopi dan dua gula
dengan semesta di dalamnya.

Sebelum Kita Saling Mengenal

Ada sebatang pohon apel besar dalam tubuhku, tumbuh dari sebelah kiri dada sampai ke kepala. Dunia sudah jelang petang sejak kau menatapku baru saja. Entah di mana kautaburi remah roti sebab burung-burung muncul hinggap di dahan-dahan hingga bergoyang-goyang, daun-daun jingga melayang-layang gugur menyentuh rumput perlahan. Kauangkat sudut-sudut bibirmu: satu, dua โ€“ di sini senja menggelitik semakin mesra.

Pada senyummu yang ketiga, sebuah apel di kepalaku terjatuh tepat di dada.

23 Agustus 2011

Sajak dari Dalam Gerobak

Klutuk klutuk werrr..

Segerobak nasib ditarik bapak
di tepi jalan Pondok Bambu,
sesekali berhenti sebentar saja
ia butuh menarik napas–
tapi tak pernah lama-lama
peluhnya tak sabar diseka emak.

Klutuk klutuk werrr..

Gelas-gelas akua bernyanyi:
Kalau tidak bobok, digigit nyamuk..
disela klakson dua detik sekali
dua perempuan kecil lelap
ditarik bapak kuat-kuat,
di bawah langit pucat pasi.

Klutuk klutuk werrr..

Sudah pukul tujuh malam
di masjid Isya berkumandang.
Bapak, kapan kita sampai?
Aku sudah lapar sekali.

Sebentar, Nak, satu jam lagi,
kita makan kerupuk dan nasi.

20 Agustus 2011

Kepak

Pada suatu petang,
kita berbaring di rerumputan
kau menunjuk langit
saat kawanan burung terbang pulang.
Lalu perlahan jemarimu
bergerak menyentuh tanganku,
dan tiba-tiba sayap mereka
mengepak jelas di dalam dada–

pada suatu petang
yang belum pernah ada.

11 Juli 2011

Lalu Nyanyikan Lagu Penutup Itu

Pakailah baju hitam, Sayang;
di hatiku
kau sedang dimakamkan.

Juni 2011

Si Kancil Sudah Tak Nakal

Si Kancil sudah tak nakal,
Ia datang dengan sekeranjang ketimun halal.
Diceritakannya aku tentang hari-harinya
ke sekolah, ke pantai, ke luar negeriโ€“
hanya saja ia kini berteman dengan Pak Tani.

Si Kancil masih mengingatmu,
Ia bertanya: apa kabar pendongeng itu?
Sudah lama aku tak dengar ia bercerita!

Kubilang kau baik-baik saja,
selain uban dan gigi yang tinggal beberapa.

Dikatakan Si Kancil padaku,
Sampaikan pada ayahmu
aku rindu dongeng-dongeng malamnya dulu.

Ah, Kancil,
begitu juga aku.

26 Februari 2011

13 thoughts on “Sajak-sajak Jawa Pos 20 November 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s