Seribu Bangau Kertas

Ayah, sebenarnya aku yang tak sengaja
membuat penyok mobil kita
karena tak hati-hati memarkirkannya.

Ayah, sebenarnya aku juga
yang membuat ikan-ikanmu mati
dulu sekali.
Kupikir mereka butuh sabun untuk mandi.

Ayah, maaf kalau dulu
aku malas sekolah
dan tak pernah dapat ranking satu.

Ayah, aku menyesal dulu
tak mau belajar piano
seperti keinginanmu.

Ayah, maafkan aku karena
tak pernah punya waktu untukmu.

Ayah, setiap kali aku
bersikap ketus padamu,
diam-diam kutampar pipiku sendiri.

Ayah, aku rindu dongeng-dongengmu.
Tentang putri-putri yang katamu
tak mungkin bisa secantik aku.

Ayah, aku ingin memelukmu sekali lagi.
Malam ini dingin sekali.

Ayah, aku tak mau tidur
sebelum kaunyanyikan nina bobok
sampai kita mendengkur.

Ayah, aku patah hati.
Aku butuh kau untuk ingat
tak semua laki-laki sebrengsek ini.

Ayah, besok aku wisuda,
aku ingin kau ada.

Ayah, percayalah
aku menyayangimu,
meski tak pernah mengatakannya.

Seribu pesan.
Seribu bangau kertas.
Kutaruh di atas pusara.
Semoga Ayah membaca.

PS:
Ini fiksi. Papa saya masih ada.
Dan saya janji akan membuat beliau bangga.

11 thoughts on “Seribu Bangau Kertas

  1. Dan itu seperti aku yang mengatakannya, Disa. Aku mau wisuda, dan aku benar-benar menginginkan dia ada. :’) nice post btw. ;’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s