Untuk yang Telah Jadi Udara

: Mahesa Aditya

Di tempat ini kami masih sesekali bicara
tentang lelaki penyair
yang dikenal lewat kesepiannya,
dulu ia selalu dapat kautemui
sedang duduk menyendiri
mengamati lalu lalang percakapan
dengan lantunan lirik-lirik kesedihan

Aku akan baik-baik saja, sebab kelak segala luka dan kenangan
akan mengabu, lesap di laut sunyi jiwaku

demikian ia suka menitipkan tangis
lewat manis kata-kata,
diterbangkannya dari tepi jendela
tiap gerimis membasahi dadanya.

Di tempat ini pernah tiba sebuah berita
tentang lelaki penyair
yang dikenal lewat kesepiannya,
katanya kini ia tak perlu lagi
kautemui duduk menyendiri
sebab malaikat telah membebaskan
hatinya dari segala hujan

Waktu yang telah pergi, seperti asap meninggalkan api,
tak akan pernah kembali

tapi tetap ada yang tertinggal di sini,
karena ia telah jadi udara
menghembuskan api pada puisi
meniupkan dingin di dada kami.

untuk yang tak akan terlupa dari linimasa, @mahesaaditya.
yang tertulis dalam huruf miring diambil dari Sajak Cinta yang pernah ditulis almarhum.

13 thoughts on “Untuk yang Telah Jadi Udara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s