Yang Akan Kukenang Lebih dari Ciuman Pertama Sungguhan.

Kodok, aku tak pernah lupa hari pertama kita bertemu.

Waktu itu kita sama-sama terlambat di ospek SMA hari pertama, masih pakai putih biru. Kita turun berbarengan dari kendaraan umum berbeda. Aku geleng-geleng kepala melihat rambutmu yang berantakan dan seragam asal-asalan, dan kamu tertawa melihat sepatuku yang warnanya kuning-hitam. Limabelas menit berikutnya, kita sudah dijemur berdua di tengah lapangan. Kamu sembunyi-sembunyi menjulurkan lidahmu pada kakak kelas galak itu, dan aku baru sadar wajahmu persis kodok.

Sejak saat itu, kita tak pernah terpisahkan.

Tapi kita benar-benar cuma teman. Meski kamu selalu memilih mengantarkanku pulang daripada menemani si cantik Nadia makan siang. Padahal, aku tahu kamu setengah mati naksir dia. Tapi aku juga selalu memilih kaujemput dengan motormu si Otong itu tiap pagi. Omelan “dasar Keledai!” darimu karena aku selalu bangun kesiangan, lebih ampuh membuatku tertawa daripada tawaran bermobil bersama Arya. Walaupun kau mendiamkanku sepanjang perjalanan karena kita akan dihukum lagi.

Tentu saja cuma kamu dan aku yang percaya kita benar-benar cuma teman. Karena tak ada orang lain yang melihat kita membuktikannya. Persis setahun lalu di sini, di atas genteng rumahku. Kita sedang bicara betapa romantisnya senja itu. Kamu bermain gitar, menyanyikan lagu-lagu cinta untuk Nadia.

“Rasanya ciuman gimana, ya?”
“Hahaha. Enak. Mau nyoba?”
“Amit-amit!”

Kutoyor kepalamu. Kau mendekatkan wajahmu dengan ekspresi yang menggelikan. Sama sekali tidak lucu.

“Kodooook! Minggir nggak?!”

Kamu tergelak lagi. Lalu terpeleset entah bagaimana.
Dan bibir kita bersentuhan.

“Euuuwww! Sana loooo, jijik!”
“Dih, ngga sengaja tau. Emang gue ngga jijik apa? Dasar keledai!”

Kita sibuk menghapus bekas bibir masing-masing dengan tangan.
Bergidik. Bergidik lagi. Bergidik lagi.
Sambil tak habis-habis tertawa.

“Ah, lo ngerusak momen spesial gue. Sialan.”

Aku tak habis pikir kenapa ciuman pertama harus kualami denganmu. Rasanya aneh sekali. Menyebalkan. Walaupun itu tak bisa dikatakan ciuman pertama sungguhan, tetap saja bibirku sudah tidak perawan.

Tapi sejak kemarin, aku tahu: meski rasanya aneh, aku akan mengingatnya lebih dari ciuman pertama sungguhanku nanti. Dengan siapapun, dan semanis apapun itu.

Aku akan selalu kangen kamu, Kodok.
Baik-baik ya di surga.

24 thoughts on “Yang Akan Kukenang Lebih dari Ciuman Pertama Sungguhan.

  1. Awalnya sungguh menarik untuk dibaca, apalagi setelah melihat bait kalimat terakhirnya, langsung terenyuh dibuatnya. Namun Alhamdulillah, ternyata semua cerita tsb hanya fiksi belaka. Ngga jadi nangis deh, hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s