Sebuah Sajak dari @kebunsalju

SAJAK MENGINGAT JALANJALAN
YANG TELAH DILUPAKAN

untuk Kaka @jemarimenari

Di sebuahkota yang telah dilupakan oleh ingatan, aku mencoba mengingat jalanjalan: yang pernah kita lalui, dan belum pernah kita lalui, dan yang mungkin akan kita lalui.

Setiap jalan, katamu, selalu punya kisahnya sendiri. Punya lukanya  sendirisendiri. Punya kebahagiaanya sendirisendiri. Dan ketika kita melewati sebuahjalan, barangkali kita menambahi luka, atau kebahagiaanya.

Lalu kaumencoba mengingat sebuahjalan: yang membentang dari masakecilmu. Jalan yang menyimpan semua tangisanmu, yang kadang kauputar berulangulang.

Sebuahjalan kadang mirip pitakaset. Kadang mirip piringanhitam yang berputar, seperti jalan yang melingkari sebuahkota. Kadang, mirip kawat yang direntang dalam pikiran.

Jalanjalan sering lebih abadi dalam ingatan.

Kau pasti sering menemui: jalanjalan lenyap atau berubah, seakan sungaisungai yang dipindahkan. Tetapi selalu ada jalan yang akan membawamu pada kenangan.

“Aku inginkan jalan, yang akan membawaku kepadamu. Dari arah mana pun jalan itu, dari masadepan atau masalalu, jalan itu akan selalu membawaku padamu.”

Kau tersenyum mendengar katakataku. Seakan katakataku menjadi sebuah jalan yang membelah kotamu. Membelah kesunyianmu.

“Mari, kutunjukkan jalan paling rahasia, ke jantungku,” katamu: sambil pelanpelan kautuntun tanganku, menuju ranum dadamu.

Dadamu: kota yang berdebar. Kota dengan banyak jalan kenikmatan. Dan dua puting susumu, menjulang, bagai menara gereja.

Di sebuahkota yang dilupakan dalam ingatan, aku mencoba mengingat jalanjalan dalam dadamu.

Adakah jalan yang akan selalu menautkan kepedihan dengan kenangan?

Seseorang akan merindukan jalanjalan yang sudah ditempuhnya, dan mengharapkan kebaikan pada jalanjalan yang belum dilalui, bahkan pada jalan yang tak pernah ingin ditempuhnya.

Kau tahu, katamu, sebuahjalan, terkadang menjelma burung: terbang ke negerinegeri yang hanya dapat kaujumpai dalam dongeng dan kenangan.

Kadang, jalan yang telah menjelma burung itu, hinggap di sebuahkota; dan mengubah diri jadi namajalan yang berbeda, dari sebelumnya.

Itu sebab, kita sering menjumpai jalan yang sama sudah berganti nama. Seperti kenalan lama yang menyapa kita dengan bajubaru.

Sebuahjalan berganti nama, seakan ada ingatan yang tengah dihapuskan, dan ingatan baru dibangun: seperti meletakkan patung, dalam jantung.

Saat sebuahjalan lenyap dari ingatan, banyak orang yang takbisa lagi menemukan jalanpulang. Terjebak dan tersesat di jalanjalan baru yang dibangunnya sendiri.

“Tapi ada satujalan,” katamu, yang akan membuat kita selalu bertemu.” Apa itu, tanyaku. Dan kau, langsung, meraih bibirku.

Bibirku: pintugerbang sebuahjalan, yang membuka segalanya. Lalu kaubuka bajuku. Kutangku. Celanaku. Susuku. Kulitku. Ingatanku.

Dan, terbentanglah jalan – jalan yang lebih lapang dari jalan apapun. Dan kautunjuk, celahpahaku: ini jalan, menuju surga juga neraka.

Aku mencoba mengingat, di sebuahkota yang telah hilang dari ingatan: adakah sebuahjalan yang akan terus menghubungkan kenangan dengan kepedihan?

Lalu kubayangkan: Di sebuahkota, yang penuh dengan jalanjalan melintang, engkau tersangkut di keruwetan jalanjalan itu. Engkau lalat di jejaring labalaba.

Barangkali, suatuhari, kau akan mati seperti itu: tergeletak di sebuahjalan tanpa nama, tanpa ingatan. Di kota yang dilupakan ingatan.

Pada suatu hari itu, percayalah, hanya aku yang mengingatmu. Akan selalu mengingatmu. Meski jalanjalan lenyap dari ingatanku.

2011

Dear @kebunsalju yang misterius, sajaknya betul-betul bagus. Terima kasih ya!

5 thoughts on “Sebuah Sajak dari @kebunsalju

  1. Hai, Kaka, ini Nobita!! Nobita senangggg sekali baca sajak Nobita ada di blog Kaka. Ini pertamakali, dalam hidup Nobita, Nobita melihat sajak Nobita dipajang di media!! Puji Tuhan. Semoga Tuhan tidak pernah menyesal telah melahirkan Nobita di dunia ini. Terimakasih juga buat Penyair yang hidup dalam kepala Nobita. Nobita akan selalu ingat Kaka. Selalu.

  2. Adik Nobita, seperti semula harapanku, harapanmu dan harapan Jemari juga, janganlah kau menjadi dewasa. Tetaplah jadi adik kami dan tentunya teruslah bersajak, biar kami belajar terus darimu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s