Saat Kau Pulang, Aku Tengah Menghias Bulan

Tentu kau ingat hari di mana
sayap-sayap emas menumbuhi punggung kita,
membawa jemari menaut bergenggaman
dan kau bilang, ‘kita pindah ke langit, sayang!’
Lalu kaulukis bintang besar tanpa logika
di mana kita tetap perawan meski bercinta
sepanjang malam, sesuka hasrat kita saja.

Dan tentu kau ingat juga
saat kita temui kelinci bulan yang tak pernah tua,
katanya sayap-sayap kita mungkin abadi
jika cinta terus menjaga agar mereka terhidupi.
Ia menatapku seperti peramal yang khawatir,
tapi kau mengecup dan berbisik tanpa ragu:
‘Kita akan di sini, bahkan hingga cucu kita lahir.’

Hari yang ini pun tak mungkin kau lupa,
saat kutangkap sesal pada matamu yang jelaga
cuma sisa, bekas api pernah menyala.
Maka di situ tempat kita menghapus mimpi;
Kau berbalik lalu terbang pulang sendiri,
kelinci dan bintang-bintang luruh menghitam
dan aku jatuh secepat hujan mencium bumi.

Padahal saat itu aku tengah menghias bulan,
sekadar ingin memberimu kejutan.

2 thoughts on “Saat Kau Pulang, Aku Tengah Menghias Bulan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s