Kopi untuk Bapak

Seperti biasa, pagi ini ibu menyeduh kopi.

“Bapakmu itu, paling cerewet soal kopi. Tak boleh sedikit saja salah takaran. Bagaimana mungkin lidahnya begitu mahir mengukur jumlah bubuk kopi?” Keluhnya sambil mengukur gunungan kopi pada sebuah sendok kecil.

“Padahal selalu ibu ingatkan, terlalu banyak kopi tak baik untuk kesehatan. Maagnya sudah sering kambuh. Belum lagi penyakit lainnya..”

Meskipun keluhannya selalu sama tiap pagi, aku tak pernah bosan. Karena senyum ibu tak pernah lepas dari wajah cantiknya.

“Ibu istirahat dulu. Panggil bapakmu, bilang kopinya sudah jadi.”

Setiap pagi selalu begini. Ibu kembali tidur, aku meminum kopi bapak, dan bapak tersenyum dari sebuah foto yang terpajang di dinding.

Hari ini, genap setahun bapak pergi.

4 thoughts on “Kopi untuk Bapak

  1. Fiksimini skaleee! Buat Uni yg ganjel cuma kalimat “senyum Ibu tak pernah lepas dari wajah cantik itu.” ‘itu’ siapa? ‘wajah cantiknya’ lebih pas mungkin. Mohon pencerahan. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s