di Balik Kaca TransJakarta

Kamu di balik kaca mobilmu,
dan aku di dalam bus kota.

Antara kita adalah
jarak begitu jelas namun tak terbaca
yang seperti dimensi berbeda saja,
meski kadang seolah saling bertatap mata.
Kamu kesempurnaan yang berdiri angkuh
dan aku di sini serupa itik bersimbah peluh.
Lalu mobil mewah dan asap dari luar jendela,
pendingin nyaman dan desak TransJakarta
yang tiap kaca dan kursinya saja menyentak mimpiku lalu tergelak,
atas khayal yang sesederhana imaji anak-anak.

Antara kita adalah
kenyataan dalam klakson pagi
bahwa pangeran manja tak akan jatuh hati
pada putri sederhana berbau matahari.
Tapi cinta bukannya seperti debu jalanan,
terbang tak berarah lalu mendarat sembarangan?
Lalu analogi yang dibantah
oleh hujan yang menyiramnya hingga basah
lalu menghapusnya mentah-mentah.
Katanya, “bagaimana bisa itu berlaku,
jika ia bahkan tak kenal debu?”

Antara kita adalah
sombongnya caramu menyetir,
ban mobilmu yang tertawa menyindir
dan hatiku yang basah oleh cipratan air.
Bahkan kicau burung saja terdengar berkelakar
menertawai keberadaanku yang tak kau sadar.
Lalu panasnya siang yang menyengat,
membakar kulitku dengan penuh semangat
membuatnya semakin gelap tanpa kata sepakat
sementara kamu, begitu terang dan halus,
serasi dengan tatapan yang membius.

Antara kita adalah..
ah, sudahlah.

Semua membuatku setuju,
bahwa dunia kita berbeda.
Kamu di balik kaca mobilmu,
dan aku di dalam bus kota.

Tapi coba periksa debu di atap mobilmu,
siapa tahu ada cintaku di situ.

-DisaTannos-

Untukmu yang di sana,
yang cantik dibingkai kaca TransJakarta.
Di antara kita hanya tersekat dinding ragu
yang tak kau pahami sebagai cinta di sela waktu menunggu.
Maka bawa aku ke dalam TransJakartamu
untuk memelihara wajahmu di ruang temu.
Mana yang bisa kugenggam?
Tanganmu atau tiang penyangga badan,
sebab aku harus tahu cara membiarkanmu tetap nyaman.

Di luar jendela selalu ada pemandangan yang kau bosan,
maka masuklah ke dalam mataku, pelan,
lihatlah dunia yang kelak
dan tak bisa kau elak.

Siang yang jalang
mencumbui tubuhmu hingga bersimbah peluh.
Boleh aku saja yang menyeka?
Agar letihmu dapat kuterka,
agar dapat kutakar berapa banyak tersisa luka.

Wajahmu,
tempat surga menyederhanakan parasnya
yang terselubung muram mendung.
Maka biar aku membasung mendung,
biar kita menyingkap cinta yang urung.

Roda TransJakarta terus berjalan
pun jalan akan merupa sungai kenangan
yang sesekali meluap saat rindu mengecupkan hujan.
Dan aku akan menggenggammu berdampingan
di atas roda yang menyepuh jalan
berubah dari abu menjadi merah jambu
sampai ke halte terakhir,
tempat salah satu dari kita dijemput takdir.

-RadityaNugie-

2 thoughts on “di Balik Kaca TransJakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s