Terserah Kamu Saja

“Ma, aku mau bicara.”
Sebuah suara serak-serak basah memanggil sang mama yang sedang bekerja di kamarnya. Agak ragu terdengar–mungkin takut mengganggu.

“Ya bicara saja..” jawab mama tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang sedang dibacanya.

Sosok kurus berkaos hitam itu duduk di hadapan ibunya–nyalinya tak setajam bagian tengah rambutnya yang dipoles gel. Kedua kaki dan tangannya tak henti bergerak. Jemari mengetuk kaki. Kaki kanan menyenggol kaki kiri.

“Nanti kalau kuliah.. aku mau..”
“Musik lagi? Mama kan sudah bilang, terserah kamu saja. Semua itu hak kamu untuk memilih. Tapi musik itu gak ada masa depannya. Ngapain kamu jadi musisi? Gak usah kuliah juga bisa. Nanti sudah bayar mahal-mahal, kamu munculnya di jalanan, atau di penjara. Sudah lah kamu ambil hukum saja seperti kata mama, masa depannya lebih cerah. Tidak usah protes..”

“Bukan itu ma..”
“Terus apa?” akhirnya Mama mengalihkan pandangannya.

“Emm.. Gini..” kini ia sibuk menggaruk-garuk kepalanya.
“Aku kan udah dewasa..”

“Kamu mau pacaran? Sekali lagi nak, Mama kan sudah bilang, terserah kamu saja. Kamu mau punya pacar, itu hak kamu. Tapi bagaimana nanti dengan pendidikanmu? Nanti nilaimu berantakan kalau kamu keasyikan pacaran. Nanti kamu gak lulus-lulus. Sudah begitu pergaulan sekarang bahaya, nanti kebablasan bagaimana? Sudahlah, nanti saja kalau sudah sarjana, menikah saja langsung..”

Ia mengedarkan pandangan tegang ke seluruh ruangan. Menarik nafas dalam, membuangnya lagi. Menepuk-nepuk kedua paha. Memainkan rantai dompetnya.

“Bukan juga maaa..”
“Apa lagi sih?”

“Begini.. Aku punya kebutuhan..”

“Aduuuh.. Mama kan sudah bilang, terserah kamu saja mau pakai uang bulananmu untuk apa. Cukup kan? Itu uang kamu, kamu yang atur. Tapi ya jangan untuk beli barang-barang gak penting. Juga milihnya yang benar. Kamu itu kalau pilih baju selalu jelek. Gitar saja selalu yang kualitasnya buruk. Sudah kamu mau beli apa, nanti mama saja yang pilihkan..”

“BUKAN MAAA..” ia mulai putus asa. Dibenamkannya kepala ke dalam kedua tangannya.
“Lalu apa? Langsung saja lah.. Mama sibuk.. ” mama menghela nafas tak sabar.

“Aku mau operasi. Jadi laki-laki sejati.”

Hening.
Mama menghela nafas lagi. Berat sekali.

“Untuk yang ini..
Terserah kamu saja, Kirana.”

“Tanpa tapi?”

Mama mengangguk pelan.

“Kenapa ma?”

Mama diam, tak menjawab. Hanya memandangnya.
Lama.
Lalu menyerahkan tumpukan foto dari dalam laci.

Seorang anak muda. Dengan wajah mama.
Tapi semuanya dengan pakaian laki-laki.. Seperti dirinya.

“Mama tahu rasanya jadi kamu..”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s